Hakikat Hijrah Yaitu Hijrah Dari Maksiat Pada Allah Kepada Menta'atiNya...Ingatlah, Bahwa Maksiat Yang Paling Besar Adalah Syirik, Dan Keta'atan Yang Paling Agung adalah Bertauhid Pada Allah 'Azza Wajalla...Maka Oleh Karena Itu Bertauhidlah Kepada Allah Semata Dan Jauhilah Segala Bentuk Kesyirikan DAURAH QUBRA SEPUTAR 143 Permasalahan Puasa Dan I'tikaf Kontak Person: 085237021944

Jadwal Shalat

Radio Jihad On Line Perhatikan Waktu Shalatmu Saudaraku...Jika Waktu Shalat Tiba, Cari masjid Yang Terdekat Dengan Anda..Tunaikan Segera dan Jangan Di Tunda-tunda!!!

Sabtu, 19 September 2015

Berapa Kali Khutbah Sholat ‘Id, Satu Kali Atau Dua Kali?

Berapa Kali Khutbah Sholat ‘Id, Satu Kali Atau Dua Kali?
Disini ada perbedaan pendapat para ulama, ada yang mengatakan satu kali([1]) dan ada yang mengatakan dua kali, dan inilah yang rojih wallahu a’lam ([2]).
Pertama: yang mengatakan satu kali, mereka berdalil dengan hadits:
وَحَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَمُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ قَالَ ابْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِى عَطَاءٌ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَمِعْتُهُ يَقُولُ إِنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَامَ يَوْمَ الْفِطْرِ فَصَلَّى فَبَدَأَ بِالصَّلاَةِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ ثُمَّ خَطَبَ النَّاسَ فَلَمَّا فَرَغَ نَبِىُّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَزَلَ وَأَتَى النِّسَاءَ فَذَكَّرَهُنَّ وَهُوَ يَتَوَكَّأُ عَلَى يَدِ بِلاَلٍ
Artinya: “Sesungguhnya Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- berdiri pada hari idul fithr lalu mengerjakan shalat, beliau memulai dengan shalat sebelum khutbah, kemudian setelah itu baru beliau berkhutbah. Setelah Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- selesai berkhutbah, beliau turun dan mendatangi para wanita, lalu beliau memberikan peringatan kepada mereka sementara beliau bersandar pada tangan Bilal.” (HR. Muslim no. 885)
Istifadah:
Hadits ini menjelaskan bahwa sunnah hukumnya bagi khotib untuk memberikan tausiah khusus untuk para ummahat dan akhwat. Dikarenakan hal inilah yang dicontohkan oleh oleh Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam dalam hadis ini.
Dan ini bukan berarti dinamakan khutbah yang kedua. Karena boleh langsung disampaikan didepan jama’ah setelah selesai khutbah ‘id. Lebih-lebih lagi sekarang sudah ada pengeras suara
Kedua: Khutbah ‘Id Dua Kali.
Kelompok ini berdalil dengan:
1.   Hadits-hadits Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasllam.
2.   Kiyas (mengkiyaskan khutbah ‘id dengan khutbah jum’at) Karena:
-    keduanya adalah sama-sama hari raya,
-    keduanya dihadiri oleh banyak orang,
-    dan keduanya dipersyaratkan adanya jamaah.
Oleh karena itulah imam An-Nasai -rahimahullah- no. 1415 memasukkan hadits Jabir bin Samurah tentang dua kali khutbah jum’at ke dalam pembahasan khutbah id. Demikian halnya Ibnu Khuzaimah (2/349) memasukkah hadits Ibnu Umar tentang khutbah jum’at ke dalam bab tentang khutbah id.
3.   Ijma’ ulama terhadap kiyas itu
Pendapat Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i, Ahmad, serta para ulama dan fuqaha` di berbagai negeri
Maka Kami Jawab:
1.   Tidak ada hadits shahih lagi tegas yang menunjukkan adanya dua kali khutbah dalam shalat id. Semua hadits yang menjelaskan khutbah ‘idain ada dua kali adalah dho’if.
Dan Adapun dalil mereka dari hadits adalah:
Hadis Jabir Bin Abdullah Radhiyallahu Anhu, dia berkata :
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَكِيمٍ ، حَدَّثَنَا أَبُو بَحْرٍ ، قَالَ : حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ مُسْلِمٍ ، حَدَّثَنَا أَبُو الزُّبَيْرِ ، عَنْ جَابِرٍ ، قَالَ : خَرَجَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ يَوْمَ فِطْرٍ أَوْ أَضْحَى ، فَخَطَبَ قَائِمًا , ثُمَّ قَعَدَ قَعْدَةً , ثُمَّ قَامَ.
Artinya: ”Rasulullah SAW keluar pada Iedul Fitri atau Iedul Adha, lalu beliau berkhutbah seraya berdiri, lalu duduk, lalu berdiri lagi.” (HR Ibnu Majah, no 1289).
Imam Syaukani berkata: ”Dalam isnadnya ada Ismail bin Muslim ([3]), dia periwayat yang lemah.” (Nailul Authar, hlm. 694).
2. Kiyas : kiyas digunakan oleh mereka disini adalah tidak tepat dikarenakan menyelisihi dalil yang shohih. Semua hadits yang shohih yang berbicara tentang khutbah ‘idain Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam, tidak ada satupun yang menunjukkan bahwa beliau khutbah dua kali. Dengan alasan: jika ada maka sudah dijelaskan secara terang seperti dijelaskannya cara khutbah jum’at. Silakan rujuk hadits yang berkaitan dengan khutbah rasulullah dihaji wada’ dan juga hadits yang kami sebutkan diawal pembahasan permasalahan ini.
3. Ijma’: ijma’ yang kita jadikan hujjah adalah yang tidak menyelisihi dalil. Lebih-lebih dalil yang shohih. Disini, bukan berarti kita mencacat para ulama yang  memiliki pendapat dua kali khutbah di hari ‘id. Sungguh mereka adalah ulama yang insya Allah akan diberi ganjaran yang berlipat terhadap ilmu dan da’wah yang telah mereka lakukan, akan tetapi dalam permasalahan ini yang rojih adalah khutbah ‘id hanya satu kali, dan bukan dua kali. Wallahu a’lam
Catatan:
Jika ada yang melakukan khutbah dua kali maka bukan berarti khutbahnya batal. Karena mereka juga memiliki dalil.


([1]) Abdurrahman Jazairi, Al Fiqh ‘Ala Al Mazahib Al Arba’ah, I/238; Wahbah Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, II/528; Imam Sarakhsi, Al Mabsuth; II/37; Imam Malik, Al Mudawwanah Al Kubra, I/150; Imam Syafi’i, Al Umm, I/314; Imam Nawawi, Al Majmu’ Syarah Al Muhadzdzab, V/22; Ibnu Hazm, Al Muhalla, II/108; Ahmad Musthofa Mutawalli, Al Majmu’ Al Tsamin li Fatawa Al Iedain li Ibn Utsaimin, hlm. 42).
([2])  Tidak ada yang shahih dalam sunnah bahwa khutbah Id dilakukan dua kali dengan dipisah antara keduanya dengan duduk. Riwayat yang ada tentang hal ini lemah sekali. Al-Bazzar meriwayatkan dalam "Musnad"nya (no. 53-Musnad Sa'ad) dari gurunya Abdullah bin Syabib dengan sanadnya dari Sa'ad Radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkhutbah dengan dua khutbah dan beliau memisahkan di antara keduanya dengan duduk.
     Bukhari berkata tentang Abdullah bin Syabib : "Haditsnya mungkar"
([3]) Al-buusiry berkata: hadits ini diriwayatkan juga oleh imam nasa’I didalam sunan ash-sugro tapi tanpa lafadz يوم فطر أو أضحى. Dan diriwayatkan ibnu majah, akan tetapi didalam isnadnya ada ismail bin muslim, para ulama telah sepakat tentang kedhoifanya, begitupun abu bahr adalah dhoif, Intaha. 
Dan al-bazzar meriwayatkan dari jalur saad bin abi al-waqqash:
عن سعد بن أبي وقاص أن النبي صلى الله عليه وسلم - صلى العيد بغير أذان ولا إقامة، وكان يخطب خطبتين يفصل بينهما بجلسة.
Al-haitsimy berkata dalam majmu’ az-zawa’id juz 2 hal 203 : riwayat al-bazzar ini adalah wijadah. Didalam sanadnya terdapat rowi yang tidak diketahui.selesai.
Imam nawawi berkata didalam khulashoh, diriwayatkan dari ibnu mas’ud:
عن ابن مسعود أنه قال: من السنة أن يخطب في العيدين خطبتين، فيفصل بينهما بجلوس
Artinya: ”Merupakan sunnah, imam berkhutbah dalam dua Ied dengan dua khutbah yang dipisahkan dengan duduk.” (HR Syafi’i, Musnad Syafi’i, I/158).

Imam nawawi berkata: Ini adalah hadits dho’if, tidak bersambung sanadnya. Dan tidak ada satu haditspun yang tsabit yang menjelaskan khutbah ‘id dua kali.akan tetapi mereka mengqiyaskan dengan shallot jum’at. Selesai’
(Lihat kitab Mar’aatul Mafaatih Syarah Misykaatul mashobiih, juz 5, bab sholat ‘idain hal 27, karangan abu hasan ubaidillah bin Muhammad abdu salam bin khan Muhammad bin amanullah bin hisamuddin arrahmany al-mubaarakfuri (w 1414).

Imam Syaukani berkata: Hadis ini mursal, yakni hadis yang tidak diketahui siapa periwayatnya pada generasi shahabat, sebab periwayat hadis (Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah) adalah tabi’in, bukan shahabat. Dan hadis mursal adalah termasuk hadis dhaif. (Nailul Authar, hlm. 695).

Hukum Mendengarkan Khutbah ‘Idain

Hukum Mendengarkan Khutbah ‘Idain
Telah kita jelaskan hukum sholat idul fitri (idul adha) yaitu fardhu ‘ain, itulah yang rojih. Dan dalam pembahasan ini kita akan jelaskan hukum menghadiri/mendengarkan khutbah ‘idain. Maka hukumnya adalah tidak wajib seperti menghadiri shalat ‘id. Dalilnya yaitu Hadits riwayat Abdullah bin Saib, ia berkata :
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ أَيُّوبَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ ، قَالَ : حَدَّثَنَا الْفَضْلُ بْنُ مُوسَى ، قَالَ : أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ ، عَنْ عَطَاءٍ ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ السَّائِبِ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى الْعِيدَ وَقَالَ : مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْصَرِفَ فَلْيَنْصَرِفْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُقِيمَ لِلْخُطْبَةِ فَلْيَقُمُ.
Artinya : Aku menghadiri Ied bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ketika selesai shalat, beliau bersabda : 'Sesungguhnya kami akan berkhutbah, barangsiapa yang ingin tetap duduk untuk mendengarkan maka duduklah dan siapa yang hendak pergi maka pergilah" [Diriwayatkan Abu Daud 1155, An-Nasa'i 1571, Ibnu Majah 1290, dan Al-Hakim 1/295, dan isnadnya Shahih. Lihat Irwaul Ghalil 3.96-98]
Ibnul Qoyyim Rahimahullah Berkata didalam kitab Zadul Ma'ad 1/448 : "Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memberi keringanan bagi yang meghadiri shala Id untuk duduk mendengarkan khutbah atau pergi" [Lihat Majmu Fatawa Syaikhul Islam 24/214]

Hukum Shalat Jum'at Dihari Idul Adha Dan Idul Fitri

Hukum Shalat Jum'at Dihari Idul Adha Dan Idul Fitri
Para  ulama berbeda pendapat dalam hal ini:
Pertama: Al-Hanabilah: Apabila hari 'id bertepatan dengan hari jum'at maka boleh untuk tidak shalat jum'at, yaitu diganti dengan shalat dzuhur. tapi kalau mau melaksanakan shalat jum'at maka itu mustahabbun.
inilah yang dirojihkan oleh syekh islam ibnu taimiyah.  Dan inilah yang dipilih oleh syekh bin baz dan syekh utsaimin. Kelompok ini berdalil dengan hadits-hadits Rasulullah Shollallahu 'Alaihi Wasallam:
 حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ أَخْبَرَنَا إِسْرَائِيلُ حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ الْمُغِيرَةِ عَنْ إِيَاسِ بْنِ أَبِى رَمْلَةَ الشَّامِىِّ قَالَ شَهِدْتُ مُعَاوِيَةَ بْنَ أَبِى سُفْيَانَ وَهُوَ يَسْأَلُ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ قَالَ أَشَهِدْتَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عِيدَيْنِ اجْتَمَعَا فِى يَوْمٍ قَالَ نَعَمْ. قَالَ فَكَيْفَ صَنَعَ قَالَ صَلَّى الْعِيدَ ثُمَّ رَخَّصَ فِى الْجُمُعَةِ فَقَالَ «مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّىَ فَلْيُصَلِّ». )[1](
Artinya: Dari ‘Iyas Bin Abi Ramlah Asy-Syamy ia berkata: suatu hari saya pernah menyaksikan Muawiyah Bin Abi Sofiyan sedang bertanya Zaid Bin Arqom, Abu Sofiyan bertanya: apakah kamu pernah menyaksikan bersama Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam dua hari ‘id (idul adha/idul fitri dan hari jum’at) berkumpul dalam hari yang sama?, Zaid Bin Arqom menjawab: iya, pernah. Kemudian Mu’awiyah bertanya lagi, lalu apa yang dilakukan oleh Beliau Shollallahu ‘Alaihi Wasallam? Zaid Bin Arqom menjawab: Beliau Shollallahu ‘Alaihi Wasallam melaksanakan sholat ‘id dan memberikan keringanan pada sholat jum’at : “ Barang siapa yang ingin sholat jum’at maka sholatlah)”. (H.R Abu Daud Nomor 1072, Ibnu Majah 1/393, Nasa’i 1/235, Hakim 1/288, Baihaqi 3/317, Ahmad 4/372. Dan syekh Al-bani berkata: Hadits ini shohih, juga dishohihkan oleh Imam Hakim dan Yahya Ibnu Al-madiiny serta Adz-dzahabi).
Akan tetapi yang dimaksud dengan rukhsoh dalam hadits ini adalah yaitu untuk orang-orang yang datang jauh dari pedesaan, yang mereka kesulitan untuk datang jum’at lagi dikarekan jauh dan untuk member kesempatan pada mereka untuk menikmati hari ‘id. Hal ini adalah seperti yang ditafsirkan oleh hadits abu ubaidah yang diriwayatkan oleh imam bukhari Nomor 5251 tentang kisah utsman bin affan yang member keringanan pada orang-orang yang datang jauh dari pedesaan untuk tidak apa-apa tidak datang sholat jum’at.
Dan kita tau bahwa para sahabat tidak mungkin menyelisihi apa yang dilakukan atau ditetapkan oleh Rasulullah Shollallahu ‘Alahi Wa Sallam, bahkan apa yang menjadi ketetapan para sahabat adalah yang mereka dapatkan dan pahami dari  Rasulullah Shollallahu ‘Alahi Wa Sallam.Wallahu a’lam
Kelompok pertama ini  juga berdalil dengan hadits Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ طَرِيفٍ الْبَجَلِىُّ حَدَّثَنَا أَسْبَاطٌ عَنِ الأَعْمَشِ عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِى رَبَاحٍ قَالَ صَلَّى بِنَا ابْنُ الزُّبَيْرِ فِى يَوْمِ عِيدٍ فِى يَوْمِ جُمُعَةٍ أَوَّلَ النَّهَارِ ثُمَّ رُحْنَا إِلَى الْجُمُعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْنَا فَصَلَّيْنَا وُحْدَانًا وَكَانَ ابْنُ عَبَّاسٍ بِالطَّائِفِ فَلَمَّا قَدِمَ ذَكَرْنَا ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ أَصَابَ السُّنَّةَ.
Artinya: Dari Atho’ Bin Abi Rabah ia berkata: Abdullah Bin Zubair pernah melaksanakan sholat ‘id bersama kami pada hari jum’at di waktu permulaan siang, kemudian ketika kami keluar untuk melaksanakan sholat jum’at beliau tidak keluar lalu kami sholat sendiri, sedangkan pada saat itu ibnu abbas sedang berada di tho’if, ketika ibnu abbas ke madinah, kami ceritakan hal tersebut padanya, kemudian beliau menjawab: dia telah melakukan sunnah”. (H.R Abu Daud Nomor 1073)
Mereka juga berdalil dengan hadits Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُصَفَّى وَعُمَرُ بْنُ حَفْصٍ الْوَصَّابِىُّ - الْمَعْنَى - قَالاَ حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنِ الْمُغِيرَةِ الضَّبِّىِّ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ رُفَيْعٍ عَنْ أَبِى صَالِحٍ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « قَدِ اجْتَمَعَ فِى يَوْمِكُمْ هَذَا عِيدَانِ فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ ».)[2](
Artinya: Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Telah berkumpul pada hari kalian ini dua hari raya (‘Id dan Jum’at). Barangsiapa yang ingin (untuk tidak shalat Jum’at), maka (shalat Id) ini telah mengesahkannya. Adapun kami (Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam) tetap melaksanakan shalat Jum’at.”  (H.R Abu Daud Nomor 1073/1075)
Mereka juga berdalil dengan hadits Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam:
حَدَّثَنَا جُبَارَةُ بْنُ الْمُغَلِّسِ ، حَدَّثَنَا مِنْدَلُ بْنُ عَلِيٍّ ، عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ عُمَرَ ، عَنْ نَافِعٍ ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ ، قَالَ : اجْتَمَعَ عِيدَانِ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ , فَصَلَّى بِالنَّاسِ ، ثُمَّ قَالَ : مَنْ شَاءَ أَنْ يَأْتِيَ الْجُمُعَةَ فَلْيَأْتِهَا ، وَمَنْ شَاءَ أَنْ يَتَخَلَّفَ فَلْيَتَخَلَّفْ.)[3](
Artinya: Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhu, Ia berkata: “Telah berkumpul dua hari raya (‘Id dan Jum’at) di zaman Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam, kemudian beliau Shollallahu ‘Alaihi Wasallam memimpin sholat ‘id kemudian setelah sholat beliau bersabda: Barangsiapa yang ingin ingin datang untuk shalat Jum’at maka silakan datang, dan barang siapa yang ingin tidak datang maka tidak apa-apa”.(H.R Ibnu Majah Nomor 1312)

Kedua: Jumhur (Hanafiyyah, Malikiyah, Syafi'iyyah dan Zdohiriyyah): Apabila hari 'id bertepatan dengan hari jum'at maka tidak boleh untuk tidak shalat jum'at, artinya tidak boleh diganti dengan shalat dzuhur. berdasarkan firman allah 'azza wajalla:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Artinya: Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Q.S Al-jum’ah : 9)
Mereka juga berdalil dengan hadits Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam:
حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ ، حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ ، عَنْ أَسِيدٍ ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي قَتَادَةَ ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ تَرَكَ الْجُمُعَةَ ثَلاَثَ مِرَارٍ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ ، طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ.)[4](
Artinya: “Barangsiapa meninggalkan tiga shalat Jum’at, maka Allah akan mengunci pintu hatinya.” Ancaman keras seperti ini menunjukkan bahwa shalat Jum’at itu wajib. (H.R Imam Ahmad Nomor 14558 Dan Abu Daud Nomor 1052 dari Abul Ja’di Adh Dhomri)
Mereka juga berdalil dengan hadits Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam:
عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ ، عَنْ أَبِي مُوسَى ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ إِلاَّ أَرْبَعَةٌ : عَبْدٌ مَمْلُوكٌ ، أَوِ امْرَأَةٌ ، أَوْ صَبِيٌّ ، أَوْ مَرِيضٌ .
Artinya: “Shalat Jum’at merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim dengan berjama’ah kecuali empat golongan: [1] budak, [2] wanita, [3] anak kecil, dan [4] orang yang sakit. (HR. Abu Daud no. 1067, dari Thariq bin Syihab. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
 TARJIH
Perkataan yang rojih adalah perkataanya jumhur yaitu apabila hari 'id bertepatan dengan hari jum'at maka tidak boleh untuk tidak shalat jum'at, atau tidak boleh diganti dengan shalat dzuhur. Hal ini berdasarkan dalil:
1.      Firman Allah dalam Q. S  al- jum'ah ayat 9 adalah perintah yang qoth'i. dan ayat itu adalah hukumnya umum, baik diluar hari 'id atau ketika hari 'id.
2.      Adanya ancaman terhadap orang yang meninggalkan jum'at yaitu akan dibutakan hatinya oleh Allah Subuhanahu Wata'ala. seperti yang diriwayatkan oleh imam ahmad didalam hadits yang telah disebutkan diatas.
3.      Hadits Zaid Bin Arqam yang diungkapkan diatas adalah shohih akan tetapi dibawa kemakna: Bahwa yang diberi rukhshoh untuk tidak shalat jum'at adalah kepada yang mereka datang dari tempat yang jauh. ini seperti yang ungkapkan oleh para ulama kita, diantaranya adalah:
-        Perkataan imam Athohawi dalam musykilul atsar: Hadits Zaid Bin Arqam adalah rukhshoh bagi mereka yang datang dari tempat yang jauh.untuk boleh tidak shalat jum'at.
-        Syekh ibnu jibrin berkata: perkataan jumhur dalam hal ini adalah sholat jum’ah jatuh bagi orang-orang yang datang dari jauh, dan tetap wajib bagi yang tidak jauh. Ini untuk keringanan bagi mereka, dikarenakan pulang pergi bagi mereka adalah masyaqqah”.
4. Hadits Rasulullah Shollallahu 'Aaihi Wasallam:
قَالَ أَبُو عُبَيْدٍ ثُمَّ شَهِدْتُ مَعَ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ فَكَانَ ذَلِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، فَصَلَّى قَبْلَ الْخُطْبَةِ ثُمَّ خَطَبَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ هَذَا يَوْمٌ قَدِ اجْتَمَعَ لَكُمْ فِيهِ عِيدَانِ ، فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْتَظِرَ الْجُمُعَةَ مِنْ أَهْلِ الْعَوَالِى فَلْيَنْتَظِرْ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَرْجِعَ فَقَدْ أَذِنْتُ لَهُ
Artinya: Abu ubaidah berkata: kemudian aku menyaksikan sholat ‘id bersama Utsman Bin Affan di hari jum’at. Maka beliau melaksanakan sholat ‘id sebelum khutbah, kemudian berkata: wahai manusia (para jama’ah) sesungguhnya hari ini telah berkumpul dua hari ‘id. Maka barang siapa dari kalian yang datang jauh dari pedesaan ingin menunggu jum’at maka silakan tunggu. Dan barang siapa dari kalian (yang datang dari jauh/pedesaan) ingin pulang maka saya mengizinkan untuk pulang”. (H.R BukhariNomor 5251, 5572, 5145)
Hadits ini menunjukkan bahwa yang diberi rukhshoh yaitu orang-orang yang datang jauh dari pedesaan. sehingga kalau mereka bolak-balik maka itu akan menyulitkan mereka dan agar mereka bisa lebih menikmati hari 'idnya.wallahu a'lam


([1] ). Hadits ini merupakan lafadz abu daud
([2]) Hadits ini adalah shohih atas syarat imam muslim, dan adapun baqiyah bin al-walid tidak ada yang memperselisihkan kejujuranya ketika ia meriwayatkan hadits dari orang-orang yang masyhur. Dan syekh albani mengatakan hadits ini shohih.
([3]) Hadits ini adalah dhoif dikarenakan didalam sanadnya ada dua rowi yang dinilai dho’if yaitu Jubarah Bin Al-mughollis dan Mindalu Bin Ali.
-       Jubarah Bin Al-mughollis Al-hammany, laqobnya adalah abu muhammad al-kufiy, beliau termasuk thobaqah ke 10, beliau wafat tahun 241 H di kufah, ibnu hajar dan adzahabi berkata: dia adalah dhoif.
-       Mindalu Bin Ali Al-‘anazi adalah saudara hibban bin ali. Laqobnya adalah abu Abdullah al-kuufy, ada yang mengatakan bahwa namanya adalah amru dan mindal adalah laqobnya. Ia lahir  tahun 103 H dan wafat tahun 167/168 H di kufah. Dia adalah termasuk kibaru atba’uttabi’in yaitu thobaqoh ke 7. Yang termasuk meriwayatkan haditsnya adalah abu daud dan ibnu majah. Ibnu hajar berkata: dia adalah dho’if. Sedangkan imam adz-dzahabiy berkata: mindalu bin Ali di dhoifkan oleh iamam ahmad.
([4] )  Ta’liq Al-urnu’uth: Hadits ini shohih lighoirihi, dan adapun sanad ini adalah hasan. Usaid adalah Ibnu Abi Usaid Bin Amru Al-‘Aqadiy.